TRUE FOUNDATION

Ps. Rosalin Sjiamsuri

Saya yakin semua sudah tahu mengenai kitab Rut. Saat zaman hakim-hakim keluarga Elimelekh dengan Naomi dan kedua putranya, mereka harus hijrah ke tanah Moab karena terjadi bahaya kelaparan. Setelah di Moab, Elimelekh meninggal dan kedua putranya juga meninggal, sehingga Naomi memutuskan untuk kembali ke tanah Yehuda. Saat Naomi kembali, menantunya yang bernama Rut ikut bersamanya. Ada hal menarik dari Rut ini. Rut adalah orang Moab, tetapi dia memaksa Naomi agar ia ikut bersama dengan Naomi ke tanah Yehuda. Saat Rut ikut dengan Naomi, ia tidak tahu akan masa depannya kelak, seperti apa di tanah Yehuda dan jauh dari keluarganya. Rut ikut dengan Naomi bukan hanya karena ia mengasihi Naomi, tapi karena ia percaya kepada Allah Israel. Orang Moab itu politeisme, penyembah banyak Allah. Mungkin setelah masuk ke keluarga Elimelekh, di sana Ruth mengenal Allah Israel. Sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah Anda hanya dalam kondisi yang enak dan menyenangkan baru percaya kepada Tuhan, tapi begitu menghadapi masalah mulai iman itu guncang?

Apa yang menjadi dasar iman percaya kita?
Apabila kasih Allah bagi anak-anak-Nya diukur berdasarkan kesehatan, kekayaan, dan kenyamanan kita dalam hidup ini, maka Allah membenci Rasul Paulus – John Piper
Apabila kita tidak bisa mempercayai Allah ketika keadaan kelihatannya bertentangan dengan yang kita harapkan, maka kita sesungguhnya tidak mempercayai dia sama sekali. – C.H. Spurgeon
Ada Allah seperti yang kita mau dan ada Allah sebagaimana dia adanya, dan keduanya tidaklah sama. – Ligon Duncan

Apa yang menjadi dasar dari iman kristen yang benar?
ROMA 8:32 “IA, YANG TIDAK MENYAYANGKAN ANAK-NYA SENDIRI, TETAPI MENYERAHKAN-NYA BAGI KITA SEMUA. BAGAIMANAKAH MUNGKIN IA TIDAK MENGARUNIAKAN SEGALA SESUATU KEPADA KITA BERSAMA-SAMA DENGAN DIA?”
Semua keselamatan, pengampunan dan hidup yang kekal itu tidak bisa kita beli. Sekaya apa pun kita, kita tidak bisa membelinya. Tapi hal itu kita bisa dapatkan, semata-mata karena Kristus yang sudah menanggungnya semua di atas Kayu Salib dan kita menerima anugerah terbesar itu.

Jadi, sebagai orang Kristen kita harus bisa menempatkan dasar iman kita. Jangan hanya memikirkan yang enak-enak saja. Iman kita harus dibangun atas dasar karya Kristus di atas kayu salib. Keadaan kita bisa terus berubah. Hari enak, tetapi bisa saja keesokan harinya ada kesusahan. Jika iman kita bergantung pada keadaan kita, maka iman kita itu akan seperti yoyo. Kalau dasar iman kita kepada karya Kristus di atas kayu salib, maka firman itu ialah Ya dan Amin. Tidak pernah berubah sampai selama-lamanya. Kalau kita berpegang pada dasar yang benar, maka iman kita tidak akan turun-naik, karena dasarnya tidak berubah. Kita harus memiliki dasar iman yang benar dan teguh.