Background Image

CULTURE BEGINS IN THE FAMILY
(Roh yang Menjadikanmu Anak)
Pdt. Dr. Leonardo A. Sjiamsuri, M.B.A.

Culture memengaruhi cita rasa, perilaku, dan kebiasaan. Budaya-budaya di dunia yang membentengi budaya kerajaan Allah juga sudah memasuki kehidupan orang Kristen, keluarga, dan gereja.

Culture atau budaya adalah “cara kita melakukan dan memandang sesuatu” yang dianggap normal oleh suatu komunitas atau masyarakat.

Culture terbentuk ketika nilai-nilai dipraktikkan secara kolektif setiap hari, yang kemudian menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan!

Legacy (warisan) itu bukan tentang “harta”, melainkan pola yang ditanam di dalam diri seseorang.

Apa yang kita ajarkan, dipelajari oleh generasi selanjutnya. Tetapi apa yang kita hidupi, menjadi pola/pedoman dalam kehidupan mereka.

Untuk membangun budaya yang benar di dalam keluarga, harus ada fondasinya, yaitu Yesus Kristus (Efesus 2:19-20). Selain fondasi, seluruh anggota keluarga juga perlu dibangun secara bersama-sama dalam satu kesatuan (Efesus 2:22). Kata “dibangun” artinya ada proses yang sistematis dan dilakukan secara sengaja.

Orang tua harus secara sistematis dan sengaja membangun anak-anaknya dengan menghidupi nilai-nilai Kerajaan secara bersama-sama dan konsisten sampai menjadi budaya dan pedoman hidup. Kalau tidak dibangun setiap hari, maka budaya dari dunia akan dengan mudah masuk ke dalam kehidupan mereka. Karena dunia dan kuasa kegelapan berjuang sangat keras untuk merebut anak-anak kita.

Karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, maka orang tua memiliki peran penting untuk mengajarkan anaknya secara berulang-ulang (Ulangan 6:6-7). Bukan hanya di sekolah saja.
Mari kita renungkan hal-hal berikut:
Kita sangat mendukung anak yang mengejar karier dan uang.
Tetapi, apakah kita mengajarkan mereka mengejar destiny Tuhan?

Kita memaklumi anak yang sibuk dalam pekerjaan dan bisnis.
Tetapi, apakah kita mendidik mereka untuk terlibat dalam pelayanan?

Kita mau mengantar anak yang hendak kursus, bermain di mal atau di rumah temannya.
Tetapi, apakah kita mau mengantar mereka bila ingin beribadah di gereja?

Kita menegur anak yang tidak bertanggung jawab dalam pendidikan dan pekerjaannya.
Tetapi, apakah kita menegur mereka bila tidak bertanggung jawab dalam kerohaniannya?

Kita mengajarkan mereka untuk berjuang dalam kehidupan.
Tetapi, apakah kita mengajarkan mereka untuk berserah kepada Tuhan?

Bagaimana budaya bisa dibangun di dalam keluarga?
1. Menjadi model dalam kehidupan sehari-hari
17) Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. (Filipi 3:17)

Respons, tindakan, perilaku, dan kebiasaan orang tua akan diteladani oleh anak-anaknya. Orang tua mungkin mengajarkan hal-hal yang benar, tetapi kalau ternyata yang dihidupi oleh orang tua justru tidak benar, maka tidak menutup kemungkinan anak-anaknya akan mengikuti yang tidak benar juga.
Pria yang hanya bisa melahirkan anak tetapi tidak bisa membapai mereka namanya adalah babon. Jangan menjadi seperti babon, tetapi jadilah seorang bapa yang benar!

2. Membangun identitas diri di dalam Kristus
Identitas kita tidak ditentukan oleh hal-hal duniawi, melainkan ada di dalam Tuhan.

3. Mendidik anak agar mengikuti jalan yang patut baginya
6) Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. (Amsal 22:6)

Kata “didiklah” dalam terjemahan lain adalah “latihlah”, “biasakanlah”, dan “disiplinkanlah”. Jalan itu harus yang patut, bukan yang mereka mau. Apa yang patut? Yang sesuai dengan firman Tuhan.

“Mendisiplinkan anak adalah hak anak.” - Dr. James Dobson

Sebagai orang tua, kita bertanggung jawab untuk mendisiplinkan anak kita sejak dini, karena itu adalah hak mereka. Jika kita membiarkan mereka, jangan heran kita akan kehilangan rasa hormat dari mereka.

Jangan terus-menerus menyesali kehidupan yang sudah berlalu, tetapi mulailah mengubah cara hidup kita untuk dapat menjadi teladan bagi anak-anak kita dalam membangun budaya kerajaan Allah di dalam keluarga.

You can also watch the sermon here


The Year of Movement & Miracles
 
Author
Pdt. Dr. Leonardo A. Sjiamsuri, MBA., M.Th,

Ps. Leonardo A. Sjiamsuri is the founder and senior pastor of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion) – Light to the Nations. He is also one of the founder and elder of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion). He got the vision from God to start and build Glory of Zion Church – Light to the Nations in 2006.