
KETIDAKPERCAYAAN KITA
Pdt. Donny Tompunu, M.Th.
Masalah terbesar umat Tuhan bukanlah keadaan atau masalah yang dihadapi, melainkan ketidakpercayaan kita kepada Tuhan. Ketidakpercayaan dapat menghalangi seseorang untuk mengalami janji, kuasa, dan perhentian Tuhan, sekalipun ia telah melihat banyak pekerjaan Tuhan.
A. Ketidakpercayaan Menghalangi Kita Masuk ke Tempat Perhentian Tuhan
Berdasarkan Ibrani 3-4, bangsa Israel tidak dapat masuk ke tempat perhentian Tuhan karena ketidakpercayaan mereka. Tempat perhentian Tuhan bukan sekadar tempat secara fisik, melainkan keadaan hati yang berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan belajar percaya kepada Tuhan.
• Perhentian Tuhan berkaitan dengan iman dan kepercayaan kepada-Nya.
• Keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia (Efesus 2:8–9).
• Tuhan menghendaki kita percaya kepada-Nya, bukan hanya berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan kekuatan sendiri.
B. Melihat dan Mengalami Mukjizat Bukan Jaminan Memiliki Iman
Bangsa Israel telah melihat banyak mukjizat, termasuk Laut Merah yang terbelah dan pemeliharaan Tuhan di padang gurun. Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis membuat mereka percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
Hal ini mengajarkan bahwa:
• Pengalaman rohani masa lalu tidak menjamin kita tetap percaya hari ini.
• Besarnya masalah bukan faktor utama yang menentukan iman kita.
• Ketidakpercayaan dapat menghalangi kita untuk melihat dan mengalami pekerjaan Tuhan.
Markus 9:23 menegaskan bahwa segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya. Karena itu, kita perlu menjaga kepercayaan kepada Tuhan sekalipun keadaan belum sesuai dengan harapan.
LIMA PENYEBAB KETIDAKPERCAYAAN DALAM HIDUP ORANG PERCAYA
1. Meremehkan Firman Tuhan
Firman Tuhan tidak menjadi prioritas utama sehingga iman tidak bertumbuh. Seseorang mungkin mendengar dan menerima firman dengan gembira, tetapi karena tidak berakar, ia mudah goyah ketika menghadapi tekanan (Ibrani 4:2; Matius 13:20–21).
2. Tidak Memiliki Kesadaran yang Benar tentang Diri Sendiri dan Allah
Seperti sepuluh pengintai yang merasa diri mereka seperti belalang, ketidakpercayaan membuat seseorang lebih berfokus pada kelemahan diri dan kekuatan musuh dari pada kebesaran Allah.
Masalahnya bukan hanya seberapa besar tantangan yang dihadapi, tetapi juga seberapa besar Allah dalam pandangan kita (Bilangan 13:33).
3. Pengertian Dibatasi oleh Apa yang Terlihat
Sepuluh pengintai, Yosua, dan Kaleb melihat keadaan yang sama, tetapi menafsirkannya secara berbeda. Ketika masalah, ancaman, dan keterbatasan menjadi fokus utama, seseorang sulit melihat kuasa dan rencana Allah. Iman menolong kita memandang melampaui keadaan yang kelihatan (2 Korintus 4:18).
4. Kesombongan
Kesombongan bukan hanya merasa diri hebat, tetapi juga merasa bahwa cara sendiri lebih baik dari pada cara Tuhan. Orang percaya belajar untuk rendah hati, berserah, dan menaati pimpinan-Nya, sekalipun jalan Tuhan berbeda dari keinginannya (Habakuk 2:4; Bilangan 14:4).
5. Hati yang Mengeras
Mengeraskan hati merupakan proses yang dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengabaikan firman, menolak teguran, dan membenarkan dosa. Jika terus diulang, kepekaan rohani berkurang dan seseorang dapat merasa baik-baik saja tanpa pertobatan (Ibrani 3:8, 13, 15).
C. Bagaimana Ketidakpercayaan Berkembang?
Ketidakpercayaan tidak selalu muncul sebagai penolakan terbuka kepada Tuhan. Sering kali, prosesnya berlangsung perlahan melalui beberapa tahap berikut:
• Meremehkan Firman Tuhan. Mulai mengabaikan firman dan tidak lagi menjadikannya sebagai dasar kehidupan.
• Mengabaikan perkataan, perintah, dan cara Tuhan. Lebih mengandalkan akal, pengalaman, dan penilaian sendiri dari pada pimpinan Tuhan.
• Kesombongan dan keinginan berjalan sendiri. Menolak untuk dipimpin dan dibentuk oleh Tuhan.
• Hati mengeras dan kehilangan kepekaan rohani. Semakin sulit menerima teguran, menyadari kesalahan, dan merespons Tuhan dengan benar.
Bahaya terbesarnya bukan sekadar jatuh dalam satu kesalahan, melainkan terus hidup dalam kesalahan tanpa mau bertobat.
D. Jawaban Terbesar Umat Tuhan: Membangun Kepercayaan kepada-Nya
Kepercayaan kepada Tuhan juga dibangun secara bertahap melalui kehidupan sehari-hari.
• Menyadari dan merenungkan Firman Tuhan. Menjadikan perkataan Tuhan sebagai dasar untuk berpikir dan merespons keadaan.
• Mengenal Allah lebih dalam. Memahami kasih, karakter, kebenaran, kesetiaan, dan otoritas-Nya.
• Mengenal diri sendiri di hadapan Allah. Tidak hanya berfokus pada kelemahan diri, tetapi belajar melihat diri berdasarkan kebenaran Tuhan.
• Mau dibentuk dan tetap rendah hati. Tidak memberontak ketika Tuhan mengoreksi, mendisiplin, atau mengarahkan hidup.
• Membangun iman setiap hari. Belajar percaya dan taat, bahkan ketika keadaan belum menunjukkan hasil yang diharapkan.
Habakuk 2:4 menjadi prinsip utama: Orang benar akan hidup oleh percayanya.
PENUTUP
Ketidakpercayaan membuat kita lebih percaya kepada apa yang terlihat, kemampuan sendiri, dan penilaian pribadi dari pada kepada firman serta karakter Allah. Sebaliknya, iman bertumbuh ketika kita terus mengenal Tuhan, merenungkan firman-Nya, merendahkan hati, menerima pembentukan-Nya, dan memilih untuk tetap taat.
Tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki pengetahuan tentang Tuhan, melainkan memiliki hati yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya, sehingga kita dapat berjalan dalam kehendak-Nya dan masuk ke dalam perhentian yang Dia sediakan.
You can also watch the sermon here
The Year of Thrusting & Thriving