
BECOMING PROPHETIC PEOPLE
(Menjadi Jemaat yang Profetik)
Pdt. Dr. Drs. Markus Simanjuntak, M.Th.
Dalam Perjanjian Lama, nubuatan bersifat sangat sakral dan hanya orang-orang tertentu saja yang diurapi untuk menerima karunia bernubuat.
Sangat berbeda dengan kita saat ini yang hidup dalam Perjanjian Baru. Ketika Roh Kudus dicurahkan bagi setiap orang yang percaya, kita sekaligus diberikan karunia-karunia Roh Kudus, salah satunya adalah bernubuat, dan karunia ini tersedia untuk semua orang.
Akan terjadi pada hari-hari terakhir – demikianlah firman Allah – bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. (Kisah Para Rasul 2:17)
Sekarang ini banyak gereja Tuhan sudah tidak memercayai karunia kenabian (karunia bernubuat). Banyak gereja menganggap karunia bernubuat ini sudah selesai saat masa Perjanjian Lama (sebelum Yesus datang). Padahal Tuhan masih berbicara sampai saat ini dan Tuhan bisa berbicara melalui apapun dan dalam bentuk apapun, salah satunya adalah Alkitab.
Dalam proses bertumbuh menjadi jemaat yang profetik, ada dua roh yang harus kita waspadai, yakni:
1. Performance Spirit → di depan jemaat terlihat sangat rohani dan beriman, namun di belakang/di luar gereja sangat berbeda. Hanya ingin mendapatkan validasi.
2. Celebrity Spirit → hamba-hamba Tuhan (orang yang punya karunia bernubuat) dikultuskan dan menjadi selebritas yang dicari dan diagungkan di atas Tuhan.
Karena itu Karakter sangat diperlukan dalam menerima dan mengembangkan karunia dari Allah. Sedangkan Karisma adalah anugerah dan anugerah memang tidak sama satu sama lain dan besarnya juga tidak sama satu sama lain karena ini murni pertimbangan dari Tuhan.
Namun, karisma tanpa karakter adalah awal dari kehancuran setiap hamba Tuhan.
Adanya panggilan dan tujuan kepada manusia untuk bisa mengenal Allah. Panggilan pertama bagi manusia sebelum jatuh dalam dosa adalah menjadi penyembah dan pekerja. Namun, ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia menjadi kehilangan panggilannya. Dan ketika manusia dipulihkan melalui pengorbanan Yesus Kristus di Salib, maka panggilan manusia untuk menjadi penyembah-penyembah yang benar ini dipulihkan kembali. Tidak hanya itu, kita juga dibentuk dan diproses agar terus semakin serupa dengan Kristus. Bukan menjadi Kristus itu sendiri, melainkan serupa dengan Kristus, sebab manusia (kita ini) diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sejak awal.
Tiga Pilar dalam bernubuat, menurut 1 Korintus 14:3, antara lain:
1. Membangun;
2. Menasihati → di dalamnya ada menegur sekaligus menguatkan;
3. Menghibur.
Nubuat harus dilakukan dalam konteks Injil (memberitakan keselamatan yang diberikan Kristus). Kalau pada Perjanjian Lama nubuat berisi hukuman dan kutuk, namun dalam Perjanjian Baru nubuat sifatnya bukan destruktif atau vonis mati, tetapi lebih kepada membangun, mengarahkan orang-orang kepada kasih karunia Allah, untuk mengarahkan orang itu kepada pertobatan.
Di dalam mengaktifkan karunia nubuatan (profetik) cara utamanya adalah dengan KETENANGAN (stillness). Stillness adalah disiplin pribadi tiap orang percaya.
Karena hanya dalam stillness ini kita bisa mendengar suara Allah dengan jelas. Bahkan stillness ini harus mendahului doa syafaat.
Dengarkan kesunyian Allah sebelum mendengar suara-Nya. Sebab hadirat Allah berisi damai sejahtera, sukacita, dan kebenaran. Oleh sebab itu kita tidak akan bisa merasakan dan mendengarkan Allah jika kita sibuk mendengarkan suara-suara noise, sibuk dengan pikiran sendiri, terdistraksi, bahkan penuh kekhawatiran di mana kekhawatiran dapat mematikan kepekaan roh.
”Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11)
Lima Langkah Praktis Mengaktifkan Karunia Bernubuat:
1. Kerinduan/Desire (1 Korintus 14)
2. Membangun ekspektasi
3. Beban hati
4. Miliki keyakinan
5. Mengatur ekspresi
Ingatlah bahwa dalam bernubuat kita tidak boleh memberikan DIAGNOSIS, sebab jika demikian kita seolah menelanjangi orang tersebut: menonjolkan masalah, luka, dan trauma (iini harus kita tahan, tidak boleh disampaikan).
Justru dalam bernubuat kita memberikan PROGNOSIS (solusi) yang berasal dari harta Kerajaan Sorga yang bisa menguatkan dia, membawa harapan, menguatkan, dan memimpin dia ke dalam pertobatan.
Karakter yang perlu dibangun adalah:
1. Kerendahan hati.
2. Penundukkan diri kepada pemimpin yang Tuhan berikan pada kita → hati-hati dengan roh yang mengendalikan (controlling spirit).
Controlling spirit adalah witch crime. Kita bukan lone ranger, penundukan diri pada pemimpin lokal adalah pagar perlindungan, bukan pemadam Roh Kudus.
Pengaman utama kita adalah FIRMAN TUHAN.
Alkitab mutlak menjadi sumber kita dalam mengenali mana suara Tuhan dan mana yang bukan. Tolak nubuatan yang bertentangan dengan Alkitab!
Baca Firman, terutama Perjanjian Baru harus kita selesaikan.
Misi Kristus adalah INJIL REKONSILIASI dan ini harus sejalan dengan karunia kita bernubuat.
Kuncinya adalah: Suara + Kasih + Firman = Umat Profetis.
You can also watch the sermon here
The Year of Thrusting & Thriving