Background Image

BUILD A STRONG FAMILY
(Membangun Keluarga yang Kuat)
Pdt. Hendra Rusli, M.Th.

Pentakosta adalah hari di mana gereja dilahirkan seutuhnya seperti yang Tuhan inginkan, kembali kepada posisi yang benar, dan dipenuhi oleh anugerah Allah (revival).

Pentakosta memang berhubungan dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus, tetapi pencurahan Roh Kudus tidak terjadi di hari Pentakosta saja.

Lalu, di hari Pentakosta, apa yang harus kita persembahkan kepada Tuhan? Yang harus kita persembahkan adalah hati kita yang benar/murni.

Pentakosta di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terjadi pada waktu yang sama:
1. Bangsa Israel sampai di Sinai sekitar 50 hari setelah Paskah pertama (Kel. 19:1).
2. Roh Kudus turun tepat 50 hari setelah Paskah Kristus (Kis. 2:1).

Kalau Roh Kudus turun, kuasa Allah akan memenuhi kita dan kita akan menjadi saksi-Nya bagi bangsa-bangsa.

Ketika pencurahan Roh Kudus terjadi, Allah memberikan kuasa, strategi, dan hikmat-Nya kepada gereja-Nya.

Peristiwa pencurahan Roh Kudus pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama menunjukkan tanda kehadiran Allah dalam rupa suara, bunyi, dan api (Kel. 19:16-19; Kis. 2:2-3).

Pentakosta juga berbicara tentang pengampunan dosa (Kis 2:38).

Orang Yahudi menyebut hari raya Pentakosta sebagai hari raya Shavuot, yang artinya hari raya 7 minggu. Shavuot berasal dari akar kata yang sama dengan Sheva, yang artinya 7. Oleh karena itu, mereka selalu menerjemahkan angka 7 sebagai lambang kesempurnaan dan pengampunan.

Untuk membangun keluarga yang kuat, Pentakosta memiliki esensi bagaimana setiap anggota keluarga bisa saling mengampuni satu sama lain sebagai persembahan yang benar kepada Tuhan.

Setiap hari raya Pentakosta, bangsa Israel harus mempersembahkan hasil panen mereka kepada Tuhan (Im. 23:15-16). Bagi kita, setiap hari raya Pentakosta, kita harus mempersembahkan hati yang murni dan mau mengampuni.

Pengampunan tidak terjadi hanya sekali, tetapi terjadi secara terus-menerus. Yesus berkata di dalam Matius 18:21-22, bahwa kita harus bisa mengampuni sebanyak 70 x 7 kali, yang artinya pengampunan tidak ada batasnya.

Pengampunan adalah salah satu gaya hidup Kerajaan Sorga (Mat. 18:23). Orang yang bisa mengampuni adalah orang yang memiliki dan mempraktikkan kasih Allah di dalam hidupnya (Mat. 18:27).

Pengampunan itu bukan soal perasaan, tetapi merupakan sebuah keputusan (Mat. 18:33). Mengapa pengampunan itu merupakan sebuah keputusan? Karena kasih Allah ada di dalam hati kita dan Roh Kudus telah dianugerahkan kepada kita.

Orang yang menyimpan kesalahan orang lain atau tidak bisa mengampuni orang lain, sebenarnya ia sedang memberikan hak kepada musuh untuk masuk ke dalam kehidupannya. Ketika musuh sudah masuk ke dalam kehidupan kita, maka perlahan-lahan ia dapat menghancurkan kehidupan kita (Mat. 18:34).

Kalau kita tidak bisa mengampuni, maka Bapa di Sorga juga tidak bisa mengampuni kita, karena kita tidak bisa mengikuti standar/gaya hidup Kerajaan-Nya dan telah keluar dari Kerajaan Sorga (Mat. 18:35). Lalu, apakah kita tetap bisa diselamatkan? Ya, kita tetap bisa diselamatkan asalkan kita mau belajar melepaskan pengampunan.

Untuk membangun keluarga yang kuat, kita harus memiliki hati yang mau mengampuni.

Ketika kita merayakan Pentakosta, kita harus bisa diselaraskan untuk masuk ke dalam kalender dan waktu-Nya Allah. Sehingga, ketika Tuhan bergerak bersama GKS, kita ikut dalam pergerakan tersebut.

Jika tidak ada Paskah, maka tidak ada Pentakosta. Artinya, tanpa adanya darah Yesus yang menebus dosa kita, tidak akan ada Roh Kudus yang tercurah. Roh Kudus adalah bukti bahwa hidup kita telah diampuni oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita juga harus bisa mengampuni orang lain.

Pentakosta juga berbicara tentang dunamis, artinya kita menjadi seseorang yang memiliki ability, efficiency, might, dan juga excellent ketika Roh Kudus tercurah ke dalam kehidupan kita (Kis. 1:8 - AMPC). Kata dunamis dalam bahasa Ibrani adalah chayil, yang artinya kekuatan, ketangguhan, efisiensi, kekayaan, dan tentara.

1Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya (a mighty man of wealth = Ish Gibbor Chayil) dari kaum Elimelekh, namanya Boas. (Rut 2:1)

11Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik (a virtuous woman = Isha Chayil). (Rut 3:11)

Rumah tangga yang kuat tergantung dari anggota keluarga yang membangunnya. Suami dan istri yang memiliki integritas dan cakap dalam segala hal (chayil) akan melahirkan anak-anak yang juga memiliki integritas dan cakap dalam segala hal (chayil).

Suami Chayil (Ish Chayil) adalah suami yang memiliki:
1. Kepemimpinan yang melayani
Memimpin dengan kasih, bukan otoriter. Seperti Kristus yang mengasihi jemaat.

2. Integritas dan tanggung jawab
Menepati janji, jujur dalam pekerjaan, dan menjadi teladan bagi keluarga.

3. Keberanian rohani
Menghadapi tantangan hidup dengan iman, bukan ketakutan.

4. Kebijaksanaan dalam keputusan
Mengambil keputusan berdasarkan hikmat Tuhan, bukan emosi.

5. Kasih yang berkorban
Mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat. Rela berkorban demi kebaikan keluarga.

Istri Chayil (Eshet Chayil) adalah istri yang memiliki:
1. Iman dan keteguhan hati
Hidupnya berakar pada takut akan Tuhan; sumber kekuatannya adalah iman.

2. Ketekunan dan kerja keras
Rajin mengurus rumah, usaha, dan pelayanan dengan hati yang tulus.

3. Kebijaksanaan dan pengaruh
Ucapannya membawa kehidupan; ia dihormati karena hikmatnya.

4. Kasih dan kepedulian
Mengasihi keluarga dan menolong sesama dengan kelembutan hati.

5. Kemuliaan dari karakter
Keindahan sejati berasal dari hati yang takut akan Tuhan, bukan penampilan lahiriah.

Suami dan istri Chayil adalah manifestasi kuasa dan kasih Allah. Mereka kuat dalam iman, teguh dalam karakter, dan saling melengkapi untuk membangun keluarga serta komunitas yang memuliakan Tuhan.

Kalau bukan Tuhan dan Roh Kudus yang membangun rumah tangga kita, sia-sialah usaha kita membangunnya (Mzm. 127:1). Izinkan Roh Kudus untuk terus bekerja dalam kehidupan rumah tangga kita, sampai kita melihat sesuatu terjadi. Jangan berhenti hanya karena kita belum melihat hasilnya sekarang.

You can also watch the sermon here


The Year of Movement & Miracles
 
Author
Pdt. Dr. Leonardo A. Sjiamsuri, MBA., M.Th,

Ps. Leonardo A. Sjiamsuri is the founder and senior pastor of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion) – Light to the Nations. He is also one of the founder and elder of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion). He got the vision from God to start and build Glory of Zion Church – Light to the Nations in 2006.