
THE SPIRIT OF ADOPTION
(Roh yang Menjadikanmu Anak)
Pdm. Raymond Eleazar, M.A.
“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’” (Roma 8:15)
Kita sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah. Sehingga kita sudah menjadi keluarga Allah.
Injil keselamatan lebih dari sekadar kita diselamatkan dari dosa dan jaminan masuk sorga. Injil keselamatan berbicara lebih dari pada itu. Injil keselamatan yang Allah rancangkan itu bertujuan untuk membentuk keluarga Allah sendiri. Kita ditebus dan diselamatkan karena Allah mau kita menjadi anggota keluarga Allah, menjadi anak-anak-Nya.
Injil keselamatan adalah tentang Allah yang sedang membentuk keluarga-Nya. Merupakan sebuah hak istimewa bagi kita untuk dapat memanggil Allah: “ya Abba, ya Bapa” di mana kata “Abba” berarti: Bapaku, sehingga kita bisa mendeklarasikan kepada siapa saja kalau Allah adalah Bapa kita. This is my Father.
Cetak biru keluarga Allah:
A. Bapa
Bapa memberikan identitas dan warisan kepada anak-anak-Nya (serta validasi/afirmasi).
B. Anak Sulung
• Ikatan persaudaraan dalam penderitaan (Roma 8:17)
• Kita dipanggil menjadi saudara-saudara Yesus (Roma 8:29)
Dalam Roma 8 terdapat figur ibu sebagai kiasan. Lebih lanjut mengenai figur ibu ini dibahas oleh Paulus dalam Galatia 4:21-26.
• Dituliskan bahwa Covenant (ketentuan Allah) digambarkan seperti seorang ibu.
• Bapaknya boleh sama, yakni Abraham. Namun, jika keturunannya lahir dari rahim Hagar tidak bisa menjadi saudara Ishak (anak Sara) dan berlaku sebaliknya. Jika keturunannya lahir dari Sara, tidak bisa menjadi saudara Ismail (anak Hagar).
• Bapaknya boleh sama, namun jika kita dilahirkan dari rahim yang berbeda, kita tidak akan bisa menjadi saudara Yesus. Untuk menjadi saudara Yesus, kita harus dilahirkan dari covenant (perjanjian yang benar). Yakni bahwa kita harus dilahirkan oleh Roh, bukan daging.
● Daging berbicara tentang perjanjian lama, orang yang mau dibenarkan harus melakukan hukum Taurat. Hukum Taurat tidak salah, namun sebuah kesalahan jika orang berpikir dia dapat diselamatkan karena sudah melakukan seluruh hukum Taurat yang berarti kita mengandalkan kekuatan kita, diri kita, pikiran dan hikmat kita sendiri.
● Roh berbicara tentang Kasih Karunia. Kita diselamatkan karena Kasih Karunia. Percaya bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Hanya oleh Kasih Karunia, hanya oleh Yesus Kristus kita diselematkan.
Jadi, covenant berbicara tentang kepercayaan.
• Apa yang kita percaya? Hidup dalam daging atau dalam Roh?
• Percaya berarti tidak hanya mengaku di mulut, akan tetapi juga percaya di dalam hati (Roma 10:9).
• Percaya dalam hati bukan hanya tentang perasaan, emosi, atau segala sesuatu yang kita rasakan.
Hati juga berbicara tentang pikiran dan pengertian.
→ hati adalah tempat kita berpikir, tempat kita memproses sesuatu, tempat kita meyakini sesuatu (Matius 6:21; Roma 1:21; Lukas 2:19; Markus 2:6-8).
Tiga Aspek (Elemen Penting) untuk kita menilai apakah kita sungguh-sungguh memercayai Tuhan atau belum, yaitu:
1. Conviction
Punya kesadaran akan dosa (Yohanes 16:8-9).
Kesadaran kita mengenai dosa sebagai sesuatu yang menyedihkan hati Tuhan.
Kesadaran akan seberapa besar dan kuat dampak dosa sampai Tuhan Yesus harus mati untuk menyelamatkan kita.
Jika kita belum bisa mengerti dan menyadari seberapa fatal dosa kita, seberapa besar dosa yang kita punya, dan seberapa mengerikan dampak dosa buat hidup kita, kita tidak akan bisa percaya seberapa besar, seberapa berarti, seberapa dahsyat pengorbanan Tuhan Yesus di Salib bagi kita dan seberapa besar cinta yang Bapa punya untuk kita sampai Ia rela mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya semua manusia diselamatkan.
2. Surrender
Fokus pada penyerahan diri. Berikan hidup kita untuk Tuhan. Evaluasi apa yang masih menyita waktu kita saat ini (Markus 10:21). Iman Kekristenan bukan bicara tentang apa yang kita dapatkan, melainkan apa yang kita berikan. Menyerahkan diri, memberi diri. Seperti Yesus yang memberikan dan menyerahkan diri-Nya untuk kita.
3. Confidence
Hati-hati dengan hal-hal yang masih jadi kebanggaan kita. Karena identitas kita sering kita letakkan pada hal-hal yang membawa kebanggaan bagi kita.
Letakkan identitas dan kebanggaan kita dalam Yesus. Bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita adalah keluarga Allah.
You can also watch the sermon here
The Year of Movement & Miracles