Background Image

THE CALL AND THE ROYAL SERVANT
(Panggilan dan Hamba Kerajaan)
Pdt. Ir. Stefanus Sujono

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Filipi 3:7-8)

Ayat tersebut mengajarkan kita bahwa panggilan kita di dalam Tuhan jauh lebih berharga dari pada apa pun yang ada di dunia.

Agar dapat hidup dengan setia dalam panggilan seperti Paulus, kita harus menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan kita.

Kejadian 14:14-38 tentang pasukan Abraham mengingatkan kita bahwa ada tiga kriteria yang harus dimiliki oleh orang-orang yang mau hidup setia dalam panggilan Tuhan:
1. Terlatih
Sama seperti tentara atau pasukannya Abraham, orang-orang yang hidup dalam panggilan-Nya tidak boleh menjadi orang yang pengecut atau lari dari masalah. Tuhan sering kali menempa atau melatih umat-Nya lewat masalah. Dengan menghadapi masalah atau tantangan bersama Tuhan, kita justru akan ditempa menjadi orang-orang yang menaklukkan masalah.

2. Harus terikat satu sama lain
Ke-318 tentara terlatih Abraham itu lahir dan tumbuh bersama di rumah Abraham. Artinya, walaupun bukan saudara sedarah, mereka telah menjadi satu keluarga. Untuk dapat hidup dalam panggilan-Nya, kita pun harus menjadi keluarga rohani bersama orang-orang percaya. Ketika menjadi satu keluarga, kita akan dibentuk dan belajar mempraktikkan firman. Kita pun akan belajar untuk memandang penting orang lain dan tidak egois, sehingga dan rencana Tuhan dapat tergenapi.

3. Mengejar visi Tuhan dalam hidupnya
Orang-orang terlatih Abraham mengejar musuh sampai akhir. Sebagai orang yang hidup dalam panggilan-Nya, kita pun harus mengejar visi dari Tuhan. Akan tetapi, kita harus mengejar visi tersebut bersama pemimpin yang sudah ditunjuk oleh Tuhan.

Kisah tentang Abraham yang mencarikan istri bagi anaknya, Ishak, dalam Kejadian 24 adalah bagian penting dalam penggenapan janji Tuhan bagi bangsa-bangsa.

Hal luar biasa yang terjadi di dalamnya adalah Tuhan melibatkan seorang hamba yang bernama Eliezer dalam penggenapan janji Tuhan bagi bangsa-bangsa. (Kejadian 24:2-67)

Itu berarti, berhasil atau tidaknya penggenapan janji Tuhan kepada bangsa-bangsa melalui Abraham juga bergantung pada berhasil atau tidaknya Eliezer menjalankan tugasnya untuk mendapatkan seorang istri bagi Ishak.

Kisah Eliezer dalam Kejadian 24 mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, posisi kita bukan cuma anak Tuhan, melainkan juga hamba Tuhan. Dan faktanya, memaknai menjadi hamba lebih sulit dari pada anak, karena hamba adalah orang terdepan yang menjalankan tugas dari tuannya.

Bagaimana sikap hati yang benar untuk menjadi seorang hamba Tuhan seperti Eliezer?
1. Setia dengan otoritas dan panggilan
Sebagai hamba Tuhan, status kita yang sebenarnya di Kerajaan Allah adalah pengabdi (abdi dalem), bukan pekerja. Seorang pengabdi di Kerajaan Allah akan benar-benar menghormati Yesus sebagai Raja.

Eliezer adalah pengabdi (abdi dalem) Abraham yang terbaik karena sikap hatinya yang tidak transaksional.

Menjadi hamba Tuhan berarti tidak menuntut Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau, tetapi melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Dengan begitu, kita harus belajar untuk tidak menuntut Tuhan, tetapi memberikan kontribusi terbaik yang bisa kita lakukan untuk Tuhan.

2. Rendah hati untuk selalu andalkan Tuhan
Kejadian 24:12 mengingatkan kita bahwa hanya dengan orang yang rendah hati, kasih karunia Tuhan bekerja dengan maksimal.

Rendah hati artinya selalu mengandalkan Tuhan. Sebaliknya orang yang tinggi hati adalah mereka yang mengandalkan kekuatannya sendiri.

Sebagai hamba Tuhan kita harus menyadari bahwa yang memampukan kita menjadi berkat, termasuk dalam pekerjaan Tuhan, adalah kasih karunia itu sendiri.

Eliezer juga memberikan kita teladan bahwa menjadi seorang yang rendah hati berarti menempatkan pekerjaan atau rencana Tuhan sebagai hal yang penting.

You can also watch the sermon here


The Year of Movement & Miracles
 
Author
Pdt. Dr. Leonardo A. Sjiamsuri, MBA., M.Th,

Ps. Leonardo A. Sjiamsuri is the founder and senior pastor of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion) – Light to the Nations. He is also one of the founder and elder of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion). He got the vision from God to start and build Glory of Zion Church – Light to the Nations in 2006.