
WHAT'S NEXT?
(Selanjutnya Apa?)
Pdt. Daniel Wirawan, S.T.
Salib adalah bukti bahwa Allah Bapa mengasihi kita semua. Ini bukan pernyataan kosong, tetapi sesuai dengan apa yang tertulis dalam Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Namun, sebagai orang percaya, kita tidak boleh berhenti sampai di pemahaman soal kasih Bapa tersebut. Kita harus merespons kasih Bapa tersebut dengan benar.
1 Yohanes 4:7-12 mengajarkan kita bagaimana merespons kasih Bapa dengan benar:
1. Membagikan kasih (sharing the love)
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah." (1 Yohanes 4:7)
Kasih yang benar atau sejati selalu berasal dari Allah. Prinsip utama yang harus kita pahami adalah kita tidak akan bisa memberi atau membagikan apa yang tidak kita miliki. Dari sini, kita pun harus menerima kasih Bapa terlebih dulu, barulah bisa membagikannya kepada orang lain.
Kasih yang kita terima adalah kasih yang kita ekspresikan dan hidupi. Mengasihi sesama adalah hasil dari mengasihi Tuhan.
Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa di hari-hari terakhir, kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin (Matius 24:12).
Ada empat hal yang bisa membuat kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin:
a) Kedurhakaan atau menolak otoritas Tuhan sebagai standar hidup
b) Kecewa dan luka yang tidak dipulihkan
c) Fokus pada diri sendiri
d) Menjauh dari Tuhan sebagai sumber kasih itu sendiri.
2. Mengenal kasih (knowing the love)
“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8)
Allah adalah kasih itu sendiri, dan kasih tersebut dimanifestasikan lewat pribadi Yesus. Segala sesuatu yang Yesus kerjakan di dunia adalah teladan yang harus kita lakukan dalam mengasihi sesama. Mengasihi bukan syarat untuk mengenal Tuhan, tetapi bukti bahwa kita mengenal Tuhan.
Lukas 7:47 mengajarkan kita bahwa kedalaman pengampunan yang kita terima menentukan kedalaman kasih kita kepada Tuhan. Kasih yang besar itu lahir dari kesadaran bahwa kita sudah diampuni, diterima, dan dikasihi oleh Tuhan meskipun kita tidak layak.
Kasih kepada Tuhan lahir ketika kita menyadari bahwa apa yang kita terima dari Tuhan jauh lebih besar dari pada apa yang bisa kita berikan. Bahkan, pada dasarnya kita bukan orang yang layak untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan.
Kita tidak akan benar-benar bisa mengenal Tuhan sampai benar-benar dipenuhi dengan kasih Tuhan dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan.
3. Hidup di dalam kasih (Living in the love)
Respons kita terhadap Salib Kristus adalah hidup di dalam kasih-Nya.
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10).
Dosa kita sudah diampuni dan ditebus, karena itu marilah kita hidup di dalam kasih-Nya. Janganlah kita berbuat dosa lagi dan kepura-puraan.
“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” (Ibrani 10:26)
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa jika kita sudah diampuni, jangan hidup dalam dosa lagi. Setiap orang bisa jatuh ke dalam dosa dan pengampunan Tuhan selalu tersedia buat kita. Namun, jatuh dalam dosa tidak sama dengan sengaja hidup dalam dosa. Hidup dalam dosa atau melakukan dosa dengan sengaja secara berulang-ulang sama dengan menghina kasih karunia Tuhan.
Kasih karunia Tuhan bukan alasan supaya kita bisa hidup sesuka hati kita, melainkan kekuatan supaya kita bisa hidup dalam kebenaran.
“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.” (1 Yohanes 4:11-12)
Kasih Allah yang sempurna itu bukan saat kita menerima atau merasakannya, melainkan saat kita menghidupinya dan membagikannya kepada orang lain.
You can also watch the sermon here
The Year of Movement & Miracles