Background Image

LEGACY
(Warisan)
Pdt. Ir. Lie Liman Rosalin, M.Th.

Legacy Iman
Apakah yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Warisan hidup kita sesungguhnya adalah tentang apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita.

Mazmur 78:2-4
Aku akan mengatakan sesuatu untuk membuatmu menjadi bijaksana. Dengan itu kamu akan mengerti hal-hal yang terjadi pada zaman dahulu. Kami telah mendengar dan mengetahui semuanya itu. Nenek moyang kami telah menceritakannya kepada kami. Kami tidak akan menyembunyikannya dari anak-anak kami, supaya mereka memuji TUHAN. Kami akan menceritakan tentang kekuatan-Nya dan tentang perbuatan-perbuatan besar yang telah Ia lakukan.

Mazmur 78 memberi kita pola yang berurutan:
• Mendengar karya Tuhan
• Mengalami karya Tuhan
• Menceritakan karya Tuhan
• Mewariskan karya Tuhan
Jika salah satu mata rantai ini putus atau tidak ada, legacy akan hilang.

Legacy iman bukan transfer pengetahuan, melainkan transfer kehidupan. Iman bukan hanya untuk dipahami dan dimengerti, melainkan untuk diwariskan. Iman selalu bersifat lintas generasi. Jika iman berhenti di satu generasi, itu bukan namanya legacy, tetapi nostalgia.

1. Apa yang bisa kita wariskan?
Bukan tradisi kosong, ritual, atau budaya gereja semata.

2. Bagaimana cara mewariskan iman?
Legacy iman tidak dibangun dengan program, tetapi dengan relasi, dan di dalamnya termasukketeladanan hidup.

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ulangan 6:6-7)

Generasi berikutnya tidak hanya perlu tahu apa yang benar, mereka juga perlu melihat dari dekat bagaimana anugerah Allah membentuk hidup seseorang. Iman yang hanya diajarkan bisa dilupakan, tetapi iman yang dihidupi akan diwariskan.

3. Mewariskan iman itu tanggung jawab siapa?
Setiap generasi.

4. Apa tujuan mewariskan iman?
• Agar generasi berikutnya bisa mengenal Tuhan, mempercayai-Nya, dan memuliakan-Nya.
• Anak cucu kita mengerti alasan mereka memuji dan menyembah Tuhan.

Tuhan memercayakan keluarga sebagai tempat utama iman dikenal, dialami, dan diteruskan. Anak-anak belajar iman pertama kali bukan dari khotbah, melainkan dari cara orang tua berdoa, menghadapi masalah, serta cara orang tua mengasihi dan mengampuni.

Angkatan Sesudah Yosua (Hakim-Hakim 2:10-12) Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel. Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal. Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN.

Menguduskan Hari Sabat
Teladan apa yang akan kita wariskan kepada generasi sesudah kita?
Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan Hukum Sabat, tetapi untuk meluruskan makna menguduskan hari Sabat yang dipraktikkan di Israel saat itu.

Larangan Utama Sabat
1. Bekerja atau melakukan usaha mencari nafkah
2. Menyalakan api atau memasak
3. Mengumpulkan hasil ladang atau berdagang
4. Membawa atau memikul beban
5. Bepergian jauh untuk urusan pribadi (jarak maksimal 1 km)
6. Menyembuhkan orang sakit, dan lain-lain
Semua larangan ini bertujuan mengkhususkan hari itu bagi TUHAN.

Yesaya 58:13-14
Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya.

a) Menghormati hari Sabat
• Pentingnya membedakan hari Sabat dari hari-hari lainnya
• Mengakui kekudusannya dan menjadikannya prioritas
• Sabat adalah hari khusus untuk bersekutu dengan Tuhan dan mengatur hari tersebut seputar kegiatan rohani seperti doa, ibadah, dan persekutuan
Pesan Yesaya adalah panggilan untuk memulihkan makna Sabat. Ini berarti, bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan “hari menata ulang hati” agar pusat hidup kembali pada Tuhan.

b) Tidak menuruti kesenanganmu sendiri
• Menahan diri dari kegiatan yang berpusat pada diri sendiri yang dapat mengalihkan perhatian dari ibadah
• Dengan sadar membuat prioritas pada hari ini untuk beribadah

c) Hari Sabat sebagai hari kenikmatan
• Hari Sabat seharusnya dipandang sebagai waktu yang penuh sukacita dan dinantikan, bukan beban
“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” (Markus 2:27)

d) Upahnya
Sebagai ganti dari meninggalkan kepentingan pribadi, Tuhan berjanji akan memelihara kehidupan umat-Nya.

Apa yang Membedakan Sabat dalam Perjanjian Lama dan Sabat dalam Perjanjian Baru?
Sabat dalam Perjanjian Lama merujuk pada istirahat dari pekerjaan jasmani.
Sabat di dalam Perjanjian Baru adalah istirahat dari usaha pembenaran diri. Artinya, kita berhenti “bekerja” untuk keselamatan karena karya Yesus sudah selesai di kayu salib.
Walaupun Perjanjian Baru menegaskan bahwa orang percaya tidak terikat oleh hukum Sabat secara legal (Kolose 2:16-17), prinsipnya tetap berlaku.

Hari Minggu atau waktu ibadah menjadi kesempatan untuk:
• Berhenti dari kesibukan dunia
• Memperbarui iman
• Bersekutu dengan tubuh Kristus
• Menegaskan kembali bahwa Tuhanlah pusat hidup kita

Mengapa Hari Minggu?
Dalam Perjanjian Baru, tidak ada satu ayat pun yang secara eksplisit memerintahkan orang Kristen untuk mengganti hari Sabat (Sabtu) dengan hari Minggu. Namun, teladan para rasul dan gereja mula-mula menunjukkan bahwa hari Minggu menjadi hari ibadah dan persekutuan umat percaya, karena hari itu adalah hari kebangkitan Kristus.

You can also watch the sermon here


The Year of Movement & Miracles
 
Author
Pdt. Dr. Leonardo A. Sjiamsuri, MBA., M.Th,

Ps. Leonardo A. Sjiamsuri is the founder and senior pastor of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion) – Light to the Nations. He is also one of the founder and elder of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion). He got the vision from God to start and build Glory of Zion Church – Light to the Nations in 2006.