Kingdom Worship

Ps. Ronny Daud Simeon
04 Agustus 2019

Ibrani 12:28-29 “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.”

Selama saya perhatikan, pujian dan penyembahan yang kita lakukan ditekankan pada keintiman dengan Tuhan. Benar dan memang harus karena kedekatan menjadikan keserupaan dan menghasilkan buah. Tetapi keintiman tanpa dibarengi sikap takut dan hormat akan Tuhan, akan menyebabkan penyembahan yang tidak seimbang. Rajawali membutuhkan 2 buah sayap untuk terbang. Dalam hal pujian penyembahan ini, sayap sisi kiri merupakan keintiman dengan Tuhan dan sayap kanan merupakan sikap takut dan hormat akan Tuhan. Memang Allah adalah kasih. Tetapi, dalam ayat yang tadi kita baca, dikatakan bahwa Allah juga adalah api yang menghanguskan, Dia Tuhan yang berdaulat dan berkuasa.

Yohanes, murid yang sangat senang untuk dekat dengan Yesus. Karena kedekatan ini, Yohanes semakin memiliki kemiripan dengan Yesus. Saat Yesus sudah naik ke Sorga, Yohanes dibuang ke Pulau Patmos. Yohanes melihat Sorga terbuka dan melihat Yesus ada di tahtaNya sambil berkata “Akulah Alfa dan Omega.” Yohanes melihat Yesus yang sama tetapi dengan tampilan berbeda, saat itu Yohanes melihat Yesus berkilauan, mataNya bercahaya. Yohanes tidak berani mendekat apalagi bermanja seperti yang dulu biasa ia lakukan. Saat Yohanes melihat Yesus sebagai api yang menghanguskan itu, ia tanpa disuruh, karena sikap hormat dan takut akan Tuhan, jatuh tersungkur.

Banyak orang Kristen yang menikmati keintiman dengan Tuhan tetapi tidak menghormati kekudusanNya, sehingga banyak pelayan Tuhan yang tetap menjalani dosanya. Saya ingatkan sekali lagi, memang Allah adalah kasih, tetapi Ia juga adalah api yang menghanguskan.

Lalu, apa itu Kingdom Worship (penyembahan dengan perspektif kerajaan)?
Kata “worship” (penyembahan) hanya akan kita temukan dalam konteks kerajaan. Pengertian “Kingdom Worship” sendiri adalah respon natural warga kerajaan untuk mengakui dan menghargai Tuhan sebagai raja yang memliki otoritas di wilayahNya dan punya pengaruh langsung yang bisa dirasakan warganya. Tuhan kita adalah Raja segala raja, respon natural kita adalah menyembahNya. Semua kerajaan besar dunia (Mesopotamia, Mesir, Israel, Babilonia, Media, Persia, Yunani, Romawi) akhirnya lenyap. Tidak ada kerajaan yang tidak tergoyahkan di dunia ini, kecuali kerajaan Sorga. Kerajaan inilah yang menaungi kehidupan setiap orang percaya.

Bagaimana menjalankan Kingdom Worship?
1. Mengucap syukur
Mengapa kita harus mengucap syukur? a. Ketika kita mengucap syukur berarti kita sedang bersepakat dengan semua keputusan Tuhan atas hidup kita. Dalam keadaan terburuk sekalipun, saat kita mengucap syukur, kita sedang menyatakan bahwa Allah tetap berdaulat dan tetap memegang kendali hidup kita.
b. Mengucap syukur adalah pondasi kehidupan yang membuat kita terkoneksi dengan kehendak Tuhan. Saat kita mengucap syukur, kita akan dipimpin Roh Kudus kembali ke frekuensi kehendak Tuhan.
c. Mengucap syukur akan membuat suasana hati yang negatif berubah menjadi positif. Ada bagian Tuhan, ada bagian kita. Bagian kita adalah mengucap syukur.
d. Mengucap syukur mengundang mujizat datang. Dalam sebuah kisah, ada 5000 orang laki-laki kelaparan. Tuhan Yesus menyuruh murid-muridNya untuk memberi mereka makan. Saat itu hanya ada 5 roti dan 2 ikan yang dimiliki seorang anak kecil. Yang dilakukan Yesus adalah menengadah ke langit dan mengucap syukur, dan saat itu mujizat terjadi, semua makan kenyang dan bahkan tersisa 12 bakul.

2. Beribadah dengan cara yang berkenan
Sesuatu yang kelihatan spektakuler dalam pandangan manusia, belum tentu benar di mata Tuhan. Suatu kali, Daud memiliki motivasi luar biasa untuk membawa tabut perjanjian pulang. Daud mengumpulkan 30.000 orang, memilih penyanyi-penyanyi terbaik, dan orkestra musik penuh. Daud dan seluruh orang ini menari-nari sekuat tenaga. Tiba-tiba kereta lembu yang membawa tabut perjanjian tergelincir. Kemudian perhatikan, Usa, anak Abinadab, memegang tabut perjanjian itu, dan Tuhan murka dan menyambarnya seketika. Saat keintiman menjadi biasa-biasa, tidak ada rasa hormat pada Tuhan. Kemudian, Daud menghentikan prosesi tersebut dan menitipkan tabut Tuhan pada rumah seorang bernama Obed Edom. Obed Edom memiliki sikap hormat pada Tuhan, oleh sebab itu ia diberkati Tuhan.

Waktu itu, Daud berpikir dan merenungkan apa penyebab kejadian itu, baru ia sadar bahwa ia melakukannya menurut kemauannya sendiri. Kemudian, ia memerintahkan imam-imam untuk menyelidiki teknis memindahkan tabut perjanjian. Terdapat aturan Tuhan.
Bahaya dari penyembahan adalah menyembah penyembahan itu sendiri. Kita tidak fokus pada Tuhannya, tetapi sibuk dengan lagunya, aransemen musiknya, atau koreografinya. Kita tidak lagi meminta petunjuk Tuhan karena sudah biasa melakukannya. Jangan mempolakan ibadah.

Dalam kisah Daud tadi, terdapat 4 kesalahan yang dilakukannya.
a. Tidak meminta petunjuk Tuhan.
b. Tabut Allah diangkut dengan kereta lembu, yang seharusnya dipikul langsung oleh imam, memang terdengar konvensional, tetapi inilah aturan Tuhan.
c. Tidak mempersembahkan korban apa-apa, sekarang bentuk korban yang dapat kita berikan adalah mempersembahkan tubuh dan hidup kita.
d. Memakai pakaian raja, seharusnya pakaian imam. Memang pakaian imam sederhana, tetapi pakaian imam berbicara mengenai pakaian kekudusan yang dikenakan saat menghadap Tuhan.

Tuhan lebih tertarik pada perbuatan yang benar lebih dari semua kemewahan yang kita punya.

Contoh lain dari bahaya penyembahan yang menyembahan penyembahan itu adalah saat Saul membasmi bangsa Amalek. Ia diperintahkan untuk menumpaskan habis, manusia, ternak, dan harta bangsa Amalek. Tetapi yang terjadi adalah ia membiarkan Raja Agag tetap hidup, juga ternak yang tambun dan harta mereka dengan alasan dapat dipersembahkan kepada Tuhan. Saul tidak menganggap Tuhan sebagai pusat penyembahan, melainkan “korban-korban” yang ia siapkan itu.

Motivasi memang boleh baik, tetapi kalau caranya salah, tetap salah di mata Tuhan. Dikatakan bahwa kita harus menyembah dalam roh dan kebenaran. Roh di sini merupakan suatu sikap kesadaran. Kualitas penyembahan kita bergantung pada tingkat pengetahuan kita akan firman Tuhan.

3. Sikap hormat dan takut akan Tuhan
Dalam Yesaya 6, nabi Yesaya saat melihat kemuliaan Tuhan, berkata ”Celakalah aku! Seorang yang najis bibir!” Atau saat Daniel, seorang pejabat tinggi, saat melihat Tuhan, ia berkata “Keagunganku merupakan kebusukan di hadapan Mu.” Dan Paulus berkata, “Tidak ada manusia manapun yang boleh bermegah atas dirinya sendiri.”

Saya tutup dengan akhir kisah Daud. Ia memindahkan tabut perjanjian Tuhan ke Bukit Sion dengan cara Tuhan. Tabut perjanjian diletakkan di tenda sederhana dan terbuka. Daud mengerti hadirat Tuhan tidak ditentukan oleh hebatnya fasilitas. Tenda yang terbuka melambangkan pemerintahan kerajaan Allah, bahwa semua orang bisa datang dan merasakan pengaruhnya. Tuhan berkenan akan apa yang Daud lakukan. Mintalah pada Tuhan, roh hormat dan takut akan Dia, sehingga kita tidak lagi bermain-main dengan dosa.