Background Image

A Pastor's Message

Sermon Notes - GKS Light to the Nations

Accurate



23 Juni 2019

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbicara mengenai keakuratan, sebuah tema yang berhubungan dengan topik besar kita Focus and Impact. Dalam Perjanjian Lama, kata ‘fokus’ dikaitkan dengan imam karena seorang imam harus fokus mempersembahkan sesuatu untuk Tuhan bagi umatNya. Bukan hanya berbicara tentang persembahan secara ritual, melainkan kelayakan persembahan itu dan dampak (impact) persembahan ke Sorga. Seperti Kain dan Habel, keduanya mempersembahkan sesuatu, tetapi persembahan Habel diterima sedangkan persembahan Kain tidak. Hal ini dikarenakan Habel fokus dan Kain tidak. Persoalan utama gereja atau umat Tuhan adalah gagal fokus, bukan doktrin, karunia, atau tata ibadah.
Petrus dalam suratnya di 1 Petrus 2:9 berkata, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Petrus sedang menegaskan bahwa kita sebagai gereja adalah imam-imam Allah di bumi. Selain itu, identitas kita adalah imam juga dijelaskan dalam kitab Yesaya 61:6, “Tetapi kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita. Kamu akan menikmati kekayaan bangsa-bangsa dan akan memegahkan diri dengan segala harta benda mereka.”
Imam dalam artian orang-orang yang mempersembahkan hidup dan mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan. Karena kita adalah imam, doa yang kita panjatkan langsung naik ke tahta Allah, sehingga kita tidak perlu meminta pendeta atau orang lain untuk berdoa. Ada kuasa dalam doa yang kita ucapkan.
Pelayanan apapun yang kita lakukan, baik di dunia sekuler maupun pelayanan sepenuh waktu di gereja, harus lahir dari kefokusan. Kata fokus dalam bahasa Ibraninya berarti memperhatikan dan menyimak dengan teliti dan penuh kegairahan. Hal inilah yang harus ada pada setiap anak Tuhan sehingga saat kita menyembah Tuhan, kita menyembah di dalam keakuratan. Saat kita melayani, kita melayani dalam keakuratan. Atau saat kita berdoa, kita berdoa dalam keakuratan. Tuhan menginginkan kita anak-anakNya akurat dan kita tidak mungkin akurat kalau kita tidak fokus. Dari pembacaan pada kitab Yesaya 61:6, kita harus tahu bahwa Tuhan ingin kita anak-anakNya diberkati. Dan kita anak Tuhan yang diberkati, harus menggunakan semua berkat itu untuk kemuliaan Allah sebagaimana dikatakan dalam Amsal 3:9 yaitu memuliakan Allah dengan segala milik kita.
Ibrani 12:1-2 “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”
Saksi utama kita adalah Tuhan, di manapun dan apapun yang sedang kita lakukan, Tuhan ada di sana. Namun, perlu diperhatikan bahwa iblis juga adalah saksi, itu sebabnya iblis dapat menuduh kita. Iblis menunggu waktu yang tepat sampai ia bisa membelokkan perhatian dan fokus kita dari persekutuan dengan Tuhan. Untuk itu, penting sekali untuk menyadari bahwa kita hidup di dalam Tuhan dan hidup oleh anugerah Tuhan. Saksi hidup kita yang lain adalah manusia-manusia di sekitar kita, yang melihat bagaimana kita berperilaku dan bertindak. Dengan banyaknya saksi dalam hidup kita, kita tidak boleh kehilangan fokus, sebagaimana Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk memperhatikan hidupnya dengan seksama. Semakin kita fokus dan akurat dalam menjalani kehidupan bersama Tuhan, semakin kita menjadi sama seperti Kristus.
Dalam kitab Ibrani tadi juga dijelaskan bahwa hidup ini merupakan sebuah perlombaan. Rasul Paulus memberi sebuah ilustrasi bahwa dalam sebuah pertandingan hanya akan ada satu pemenang, oleh karena itu kita harus berlari terus dengan begitu rupa. Seorang atlet harus mengetahui dengan seksama dan mengerti dengan akurat aturan-aturan dalam pertandingan, jika ada pelanggaran sekecil apapun, atlet akan didiskualifikasi. Begitu juga dengan kita sebagai orang percaya, jika kita tidak memenuhi persyaratan dan standar ilahi, kita juga akan didiskualifikasi.

Kemudian, untuk memenangkan pertandingan hidup dengan akurat, yang harus kita lakukan adalah memiliki mata yang tertuju pada Yesus. Fokus dengan memperhatikan Yesus, menyimak perkataan Yesus, dan mengikuti teladan, sikap dan perilaku Yesus. Sehingga semua saksi yang melihat kita, melihat Yesus.

    Lalu bagaimana agar kita bisa akurat?
  1. 1. Kita harus menempatkan kehendak bebas kita pada posisi yang tepat, yaitu di bawah kehendak Allah.
    Kuasa terbesar yang diberikan Tuhan pada kita adalah kehendak bebas. Tuhan memberikan kita kehendak bebas agar kita bisa mengasihiNya dengan tulus karena kehendak bebas itulah yang membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.
    Seorang professor pernah berkata bahwa kehendak bebas manusia dapat menjadikan kita mahluk terhebat di bumi ini, tetapi dalam waktu yang sama kehendak bebas dapat menjadikan kita mahluk paling berbahaya. Hebat jika kita menempatkan kehendak bebas kita di bawah kehendak Allah. Tetapi, jika kita tidak tahu siapa kita dan ke mana arah fokus kita, maka kita akan menjadi mahluk yang sangat berbahaya. Itu sebabnya penting untuk kita menyadari bahwa kita adalah imam, senantiasa fokus memperhatikan Yesus. Saat kita fokus, kita akan melihat bahwa apa yang diinginkan Tuhan menjadi fokus kita. Saat kita berfokus pada kehendak Tuhan, Tuhan pasti akan memberkati kita. Dan kembali lagi pada Yesaya 61:6, Tuhan memang ingin memberkati umatNya karena Ia tahu bahwa berkat yang diberikan pada anak-anakNya pasti menjadi akurat. Tuhan ingin kita berhasil dan sukses, tetapi selalu tempatkan itu semua di bawah kehendakNya. Saat Lucifer menempatkan kehendak bebasnya di atas kehendak Allah, dia melakukan pengkhianatan tertinggi terhadap Allah sehingga ia dibuang.
  2. 2. Sadar bahwa hidup adalah sebuah kompetisi/perlombaan yang memiliki tujuan.
    Kita harus melihat bahwa hidup ini memiliki tujuan. Kita diciptakan, ditebus, diperlengkapi, dan dibentuk untuk satu tujuan, yaitu menang. Bukan hanya menang atas dosa, tetapi menang dalam dunia usaha, pekerjaan, keluarga, pelayanan, studi, dan seluruh kehidupan. Kita menghidupi status kita sebagai pemenang dengan menjalani hidup secara akurat, tidak asal ‘memukul’ sasaran dan tidak membuang waktu. Roma 11:36 “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Hidup kita adalah untuk kemuliaan Tuhan. Dalam perjalanan hidup untuk memunculkan kemuliaan Tuhan, Tuhan izinkan kita menghadapi tantangan dengan mengalami kemenangan dan kemuliaan.


Sebagai penutup, saya ingin berkata untuk jangan mengorbankan kekekalan hanya karena hal-hal sementara yang ada di bumi. Matius 25:41 berkata, “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Neraka diciptakan untuk iblis, dan sorga diciptakan untuk kita. Gereja adalah tempat latihan kita untuk masuk sorga, jadi jika mau lolos masuk sorga, harus lolos di gereja. Ini penting karena tidak semua orang yang di gereja masuk sorga. Hanya orang-orang yang mau dilatih, dibentuk, dan dipulihkan secara tuntas dan akurat yang pasti memperoleh sorga.

You can also watch another sermon here


The Year of Focus & Impact
 
Author
Sr. Ps. Leonardo A. Sjiamsuri

Leonardo A. Sjiamsuri is the founder and senior pastor of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion) – Light to the Nations. He is also one of the founder and elder of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion). He got the vision from God to start and build Glory of Zion Church – Light to the Nations in 2006.

He started his spiritual journey since he was a university student, with his girlfriend at that time, Rosalin. He involved in ministry among high school and university students, and become one of pioneers in university students movement in 1979/1980.

Leonardo A. Sjiamsuri used to work as a banker with last position as Marketing and Credit Director. He also had been an entrepreneur, a lecturer, and a dean of management institute in Jakarta. He is a productive writer and a founder and director of a publishing company, Nafiri Gabriel. His popular and best-seller book, “Karisma versus Karakter (Charisma versus Character)” has been a tremendous blessing and very inspiring to many people.

He has been ministering in various churches, seminars, workshops, domestically and internationally. Many companies and job fair for recruitment frequently invite him as a motivating and inspiring speaker.

He is very passionate to teach and make people to become disciple of Christ according to the truth of God. His desire is to see businessmen and executives arise, and become agents of transformation in their community. This desire has pushed him to develop SMART (School of Ministries and Apostolic and Trainng) Centre. Ps. Leonardo and his wife, Ps. Rosalin, have three chlidren, Sarah Evangeline, Raymond Eleazar, Josephine Eunike. They involve in ministries of GKS L2DN.