Background Image

A Pastor's Message

Sermon Notes - GKS Light to the Nations

Pleasing God


Ps. Priscila Tjandra
25 Agustus 2019

Tidak ada satupun dari antara kita yang kebal untuk kita tidak jatuh. Pertandingan iman kita adalah marathon jarak jauh, yang membutuhkan kestabilan dan komitmen untuk menyelesaikannya. Tuhan begitu baik dan mempersiapkan kita sehingga tidak ada satu pun yang terhilang.

2 Timotius 3:1-7 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.

Pada ayat ini dikatakan bahwa akan ada masa yang sukar di masa terakhir dengan ciri-ciri yang disebutkan. Paulus dengan keras berkata untuk menjauhi orang-orang tersebut karena pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik. Tidak ada orang yang kuat dan terbebas dari hal-hal ini, oleh sebab itu kita harus tetap berdoa, terus berada di dalam Kristus, dan terus bersekutu denganNya, sehingga semakin hari kita semakin dikuatkan. Orang masuk neraka bukan karena Tuhan yang memasukkannya ke neraka, tetapi karena pilihannya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan pilihan kita.

Sekarang saya akan masuk ke topik kita hari ini yaitu menyenangkan Tuhan (Pleasing God).

Ibrani 11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Kata ‘berkenan’ dalam bahasa aslinya berarti “untuk memuaskan sepenuhnya”. Artinya Allah sangat dipuaskan saat Ia berjumpa dengan orang yang sepenuhnya yakin dan percaya kepadaNya. Tuhan tidak bisa disogok dengan perbuatan-perbuatan, tetapi hati kita tidak percaya. Tetapi dikatakan, Tuhan berkenan pada orang yang beriman (percaya) kepadaNya. Kata ‘berpaling’ dalam bahasa Inggrisnya berarti “datang kepada Tuhan” untuk membangun hubungan dengan Dia. Berarti saat kita datang pada Tuhan, kita benar-benar mau membangun hubungan dan bersekutu dengan-Nya.

Saat kita mengaku bahwa kita adalah orang percaya, berarti di hati kita ada iman. Iman merupakan pemberian Allah, sebagaimana dikatakan dalam kitab Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Dikatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Saat kita diberitakan injil tentang Yesus dan hati kita terbuka untuk kebenaran, maka Roh Kudus bekerja dan membukakan mata hati kita. Perkara iman sangat bergantung pada kondisi hati kita. Saat hati kita rindu untuk mengenal Tuhan, apa yang dilepaskan oleh firman itu, diberi kuasa oleh Roh Kudus, sehingga kita bisa yakin dan percaya.

Iman merupakan respon otomatis dari orang-orang yang mengalami penyingkapan siapa Allah (karakterNya dan perbuatanNya). Penyingkapan melalui Alkitab/firmanNya sekalipun mata tidak melihatnya dan tanpa pembuktian logis.

Saya ingin membahas perjalanan orang percaya di dalam Kristus. Pada mulanya adalah Allah, semua berasal dari Allah. Allah menciptakan manusia. Saat manusia mendengar injil dan menerima Yesus, ia menjadi orang percaya. Di dalam setiap orang percaya ada Roh Kudus (Efesus 1:13), sehingga kita bukan manusia biasa. Keberadaan Roh Kudus dalam diri kita yang membedakan kita dari orang di luar Kristus. Tetapi mengapa seringkali kita merasa biasa-biasa saja? Itu karena kita tidak membiasakan diri untuk bersekutu dengan Roh Kudus, yang senantiasa bersama kita. Ketahuilah bahwa Roh Kudus sangat ingin menyatakan diriNya pada kita.

Allah memberikan kita tujuan/visi (purpose) dalam muka bumi ini. Setiap kita lahir bukan kebetulan. Tuhan melihat kita ada bersama-sama untuk menyelesaikan tujuanNya. Pada Kejadian 1:26-28 dikatakan bahwa kita akan memerintah di atas ciptaan-ciptaan yang lain dan Tuhan mau kita memultiplikasikan gambar dan rupa-Nya.

Tujuan yang Tuhan tetapkan pada hidup kita selalu tidak dapat kita lakukan dengan diri kita sendiri karena tujuan Tuhan pasti jauh lebih besar dan jauh lebih tinggi dari diri kita. Kemampuan kita tidak akan mampu menyelesaikannya. Kalau kita berpikir memiliki visi yang mampu kita kerjakan sendiri, itu bukan dari Tuhan, karena apa pun yang dari Tuhan, harus ada Tuhan yang menyelesaikannya di dalam kita.

Matius 28:20 mengatakan bahwa Tuhan menyertai kita sampai selamanya. Dalam perjalanan iman kita menuju visi hidup kita, Tuhan ada dan menyertai kita. Dalam perjalanan yang jauh itu, Tuhan memberikan janji demi janji. Contohnya di Perjanjian Lama. Rencana Tuhan adalah menjadikan bangsa Israel dikenal sebagai bangsa besar dimana bangsa-bangsa lain dapat mengenal Tuhan. Tetapi dalam perjalanannya, bangsa Israel gagal. Namun, Tuhan memberikan janji-janji, seperti mereka akan masuk tanah Kanaan. Saat bangsa Israel hampir sampai di tanah Kanaan, para pemimpin Israel meminta Musa untuk mengintai tanah Kanaan, sehingga diutuslah 12 pemimpin dari setiap suku. Saat itu sedang musim panen, semua hasilnya baik. Kemudian pulanglah 12 orang itu. 10 orang pengintai mengatakan bahwa tanah Kanaan sangatlah baik dan subur, tetapi ada orang Enak yang sangat besar dan memakan manusia.

Dari tanah Kanaan yang begitu hebat, mereka berfokus pada 1 bangsa itu, yang menyebabkan mereka tidak mau masuk dan ketakutan mereka mempengaruhi seluruh bangsa. Seringkali kita pun demikian, hanya karena ada 1 titik kecil, yang kita fokuskan adalah pada titik itu.

Dalam kisah ini, kita juga belajar bahwa dalam perjalanan iman kita, akan ada noises (gangguan). Noises tersebut dapat berupa fakta-fakta yang kita lihat, “daging” kita, pengaruh sosial, dan kekecewaan. Saat kita mendengarkan noises ini, bukan suara Tuhan, keraguan akan muncul. Tetapi, keraguan tidak selalu menghentikan kita. Saat kita ragu, tetapi kondisi hati kita mencari Tuhan, yang akan kita dapatkan adalah revelation (penyingkapan). Saya pun sering bertanya pada Tuhan, tetapi bukan karena saya tidak percaya, melainkan karena saya ingin tahu dan mengenal lebih dalam lagi, dan karena itu tidak ada satu pun pertanyaan yang tidak dijawab oleh Tuhan. Tetapi saat kita ragu karena memang kita tidak percaya, muncullah pemberontakan kepada Tuhan, dan itulah dosa. Mintalah Roh Kudus untuk menyelidiki hati kita, apakah kita bertanya pada Tuhan karena kita rindu padaNya atau karena kita tidak percaya.

Dan kemudian, saya ingatkan berhati-hatilah dengan hati yang kecewa, mungkin terhadap sesama. Kekecewaan akan menghentikan langkah kita pada akhirnya. Ampunilah mereka sebagaimana Tuhan sudah mengampuni kita.

Sebagai penutup, saya mengutip dari James McConey mengenai iman yang sejati. Iman yang sejati tidak mempedulikan iman itu sendiri. Iman sejati memusatkan pandangannya kepada Kristus. Ketika iblis tidak dapat memperdaya kita dengan cara lain, ia membuat kita fokus kepada iman kita dan bukan kepada Kristus. Marilah kita semakin hari semakin kuat berjalan menuju destinasi yang telah Tuhan tetapkan untuk kita.

You can also watch another sermon here


The Year of Focus & Impact
 
Author
Sr. Ps. Leonardo A. Sjiamsuri

Leonardo A. Sjiamsuri is the founder and senior pastor of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion) – Light to the Nations. He is also one of the founder and elder of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion). He got the vision from God to start and build Glory of Zion Church – Light to the Nations in 2006.

He started his spiritual journey since he was a university student, with his girlfriend at that time, Rosalin. He involved in ministry among high school and university students, and become one of pioneers in university students movement in 1979/1980.

Leonardo A. Sjiamsuri used to work as a banker with last position as Marketing and Credit Director. He also had been an entrepreneur, a lecturer, and a dean of management institute in Jakarta. He is a productive writer and a founder and director of a publishing company, Nafiri Gabriel. His popular and best-seller book, “Karisma versus Karakter (Charisma versus Character)” has been a tremendous blessing and very inspiring to many people.

He has been ministering in various churches, seminars, workshops, domestically and internationally. Many companies and job fair for recruitment frequently invite him as a motivating and inspiring speaker.

He is very passionate to teach and make people to become disciple of Christ according to the truth of God. His desire is to see businessmen and executives arise, and become agents of transformation in their community. This desire has pushed him to develop SMART (School of Ministries and Apostolic and Trainng) Centre. Ps. Leonardo and his wife, Ps. Rosalin, have three chlidren, Sarah Evangeline, Raymond Eleazar, Josephine Eunike. They involve in ministries of GKS L2DN.